بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Memuat jadwal shalat...
Madrasah Literasi

Contoh cerpen : "Sepucuk Surat Untuk Hafidz"




Oleh : Raesi Amini

           
Matahari senja hampir terbenam diufuk barat. Langit mulai mengisahkan jingganya yang muram di cakrawala. Jika jingga yang muram adalah perumpamaan, hati Hafidz juga sedang muram.
            Hafidz, anak ke dua dari tiga bersaudara. Ayahnya telah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Ia adalah seorang remaja yang masih duduk dibangku kelas dua Muallimien. Ia adalah  seorang yang pendiam, namun selalu mempunyai ide yang brilian. Disekolah, ia menjabat sebagai wakil ketua, dan di kampungnya ia diangkat sebagai ketua remaja mesjid.
            Sore itu... Hafidz sedang asyik mengajarkan adik tentang agama, sementara ibu dan kakak sedang asyik berbincang di ruang keluarga.
"Hafidz.. Sini naaakk" panggil ibu
"Iyaaa, buu.." sahut Hafidz sambil segera bergegas menghampiri ibu
"Ada apa, bu?" tanya hafidz
"Sini nak, duduk didekat ibu.. Ibu mau bicara"
Hafidz pun segera menuruti kemauan ibu.
"Naaak... Tak lama lagi kamu akan naik kelas, usiamu kini bukan lagi anak-anak, bukan juga seorang dewasa. Kamu adalah seorang pemuda, namun kamu harus berfikiran dewasa..." kata ibu sambil mengelus rambutnya.
"Ibu mau agar kamu bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, seperti kakakmu.. meski suatu saat nanti ibu tidak akan membersamaimu. Apa kamu mau sekolah tinggi seperti kakakmu?" sambung ibu
"Hafidz mau buu..sangat mau, mau sekolah tinggi seperti kakak" jawabnya dengan penuh semangat
"Jika kamu mau, kamu nanti akan ambil jurusan apa, nak?" tanya ibu
"Emm... Hafidz ingin mengambil jurusan tafsir qur'an buuu.. Hafidz ingin mendalami itu, supaya nanti Hafidz mampu menebar kebermanfaatan bagi orang banyak dengan ilmu tersebut bu... Di zaman yang sekarang ini, Hafidz rasa jarang sekali orang yang peduli terhadap ilmu tersebut kalau bukan ulama, ustadz dan ustadzah, itu pun sudah semakin langka.." jelas Hafidz
"Keinginanmu sungguh mulia, nak.. Ibu doakan, semoga apa yang kamu cita-cita kan untuk menebar kebermanfaatan selalu diistiqomahkan oleh Allah"
"Aamiin,." Hafidz dan kakak mengaminkan
"Yasudah.. Bu, Fidz... Kakak masuk dulu ya, sambil mau liat adik, sepertinya dia sudah tidur" ucap kakak pamit sembari meninggalkan ibu dan Hafidz
Malam semakin pekat, ibu dan Hafidz masih duduk diruangan itu, kali ini Hafidz membuka pembicaraan
"Buu... Boleh Hafidz bertanya?"
"Silahkan, nak.. Memangnya kamu mau tanya apa?" jawab ibu mempersilahkan
"Bu.. Hafidz bingung, bagaimana caranya Hafidz mempertahankan para kader remaja mesjid kampung kita.. Akhir-akhir ini, kegiatan tersendat karena perlahan minat mereka untuk bergabung dalam organisasi ini semakin berkurang.. Hafidz sedih bu, melihat remaja sekarang lebih tergiur dengan budaya barat, mulai dari penampilan, sikap, sifat serta kebiasaan mereka.
Buu.. Apakah ketika ibu kecil, ibu pernah merasakan apa yang saat ini Hafidz rasakan?"
"Tentu, nak.. Ibu pernah mengalami,namun.. Ibu rasa tantangan ibu dulu tidak seberat seperti yang kamu tanggung sekarang. Dulu ibu sangat aktif dalam berorganisasi, seperti kamu sekarang ini, tapi yang ibu tahu, dulu tidaklah sesulit itu mengajak masyarakat terutama para remaja. Yang ibu tahu, dulu masyarakat disini selalu haus akan ilmu, apalagi ilmu agama. Mungkin karena beda zaman, masyarakat kini semakin acuh dan enggan memperdalami lagi ilmu agaman.
Tapi, kamu jangan pernah menyerah. Inilah tantangan zaman yang harus dihadapi. Ingatlah kemauan terbesarmu, yaitu menebar kebermanfaatan, dan jangan lupa, selalu libatkan Allah dalam segala hal" jelas ibu
"Baik bu.. Hafidz tidak akan menyerah"
"Yasudah.. Ini sudah malam, besok kamu sekolah.. Yuk sekarang kita istirahat..." ajak ibu
"Baik buuu..."
                                                                        ***
"Buu... Hafidz berangkat dulu yaa.."
"Iyaaa, hati-hati di jalan..."
Hafidz pun bergegas pamit usai mencium tangan "Assalamualaikum, bu.."
"Waalaikumsalam" jawab ibu
 Diperjalanan menuju sekolah, Hafidz bertemu dengan anshor, teman sekolahnya
"Assalamualaikum, Fidz..." sapa Ansor
"Ehh.. Waalaikumsalam, Ansor.. Kebetulan ketemu disini, ada yang mau aku bicarakan" sahut Hafidz
"Ada apa, Fidz.. Sepertinya serius?"
"Iyaa, An... Saya bingung dengan pergaulan remaja zaman sekarang, apalagi dikampung kita sekarang ini.." jelas Hafidz
"Iyaah, Fidz saya pun akhir-akhir ini terbebankan dengan pemikiran itu, kita telah sama-sama mendirikan sebuah organisasi dengan susah payah, tapi merobohkannya begitu mudah" jawabnya putus asa
"Emm... Bagaimana kalau kita adakan acara, tabligh akbar misalnya.. Mudah-mudahan dengan itu mereka semakin semangat, bagaimana?" sambung Ansor memberikan usul
"Ahhh.. Rasanya aku tidak yakin, An... Pengajian rutin bulanan saja jarang sekali mereka hadiri. Tapi yaa memang sih itu ide yang bagus, tapi semangat mereka hanya sampai tabligh akbar itu, selebihnya... Entahlah aku tidak begitu yakin" ujarnya
"Iyaa juga, ya... Kan yang sudah-sudah juga seperti itu, ya?" sambut Ansor sambil kembali memikirkan cara lain
"Ahh yasudah, nanti kita obrolkan ini sepulang sekolah" usul Hafidz
"Baiklah jika begitu, sampai jumpa sepulang sekolah" jawab Anshor
                                                                          ***
Setibanya disekolah, mereka berpisah disudut lorong...
.
 Tibalah saatnya jam istirahat, Hafidz menemui Ansor di kantin
"Assalamualaikum.. Ansor"
"Ehh Fidz, waalaikum salam, ada apa, Fidz?"
"Emm.. Ini, Sor saya mau diskusiin masalah yang tadi kita bahas dijalan, soalnya nanti sepulang sekolah harus segera pulang, tadi kak Salman bilang ibuku sakit.."
"Ohh.. Baiklah kalau mau omongin itu sekarang, jadi, kita mau mulai dari mana? Ucap Ansor
"Langsung aja keintinya.. Kamu punya ide apa?" jawab ansor
"Emm.. Bagaimana kalau kita bicarakan hal ini sama pak ustad, nanti sore kan bakal ada kajian" usul Ansor
"Ahiyaa.. Ide yang bagus, baik nanti kita ketemu diasana"
"Okeh"
     ***


Sesudah kajian meereka membahas permasalahan
“Pak ustad, bagaimana ini, para remaja semakin enggan untuk kembali bergabung dalam organisasi, sedang saya, disekolah saya dituntut untuk tetap mempertahankan organisasi ini.”
“Fidz, jika kamu menuntut semua itu hanya untuk nilai sekolahmu, kamu akan semakin sulit, ini adalah tantangan zaman bagi kalian, zaman yang kalian tanggung saat ini dan kedepannya akan semakin berat, maka laksanakanlah semua ini karena Allah niscaya Allah akan sesegera mungkin menolongmu. Tetaplah berjuang walau sulit. Jangan pernah menyerah, karena ini adalah tantanngan zaman bagi seorang santri dan remaja lainnya.” Nasehat ustad
Tiba-tiba disela perbincangan, kak Salman, kakak Hfidz menelpon
"Assalamualaikum… Fidz.. kamu sedang dimana?" Tanya kak Salman
“Waalaikumsalam, kak… Hafidz sedang di masjid, sama Ansor juga pak Ustad” jawab Hafidz
“Kalau begitu, segeralah pulang” suruh kak Salman
“Memangnya ada apa?”
"I...ibu, Fidz.. Ibu masuk rumah sakit, beliau tadi terjatuh di kamar mandi, sekarang beliau dirumah sakit, ibu kritis" jelasnya
"Innaalillahi.. Baik kak, Hafidz pulang"
dengan perasaan sedih
“emm… maaf sebelumnya pak ustad, saya harus segera pulang, ibu saya kritis dirumah sakit” Hafidz berpamitan

“Innalillahi…” jawab pak ustad dan Ansor

“Yasudah… pulanglah, semoga ibumu lekas smbuh”

“Aamiin, pak ustad”


                                                                         ***
Sampailah mereka dirumah sakit, dilihatnya ibu yang terbaring lemas disebuah ranjang yang dilengkapi berbagai macam peralatan medis
"Dok, bagaimana keadaan ibu saya?" tanya kak Salman
"Maaf, saya tidak bisa menyelamatkan ibu anda, karena ibu anda mengalami pecah pembuluh darah, darah yang menghambat otaknya sudah mencapai 40cc" jelas dokter
"Innalillahi..." jawab mereka sambil berpelukan.
 Tak disangka, ajal memang tak ada yang tahu, dan semalam adalah percakapan terakhir dengannya.
”Ibuuuu.... Ya Allah… secepat inikah KAU ambil ibu dariku?" suara batinya menjerit
"Nak Hafidz... Tadi ibu mu menitipkan ini pada bibi, juga ibu bepesan agar nak Salman menjaga dan merawat Hafidz dan Fatimah" ujar bibi menyampaikan pesan
                                                                         ***
Sesudah jenazah ibu dimakamkan, Hafidz bergegas pulang mengambil secari kertas berisikan tulisan ibu....


"Untumu wahai anakku...
Ibu selalu ingat bagaimana kamu dulu merengek minta dibelikan mainan, cerewet saat banyak hal baru yang kau temukan diperjalanan, dan kau pasti selalu menuntut jawaban..
Kini kau telah dewasa, kau mampu menjawab pertanyaan, memecahkan masalah sendirian, dan kamu telah punya sebuah keinginan yang begitu mulia. Kau telah dewasa. Ibu minta, jangan pernah berhenti sekolah sampai kamu masuk perguruan, sampai kamu mampu wujudkan apa yang selama ini kamu inginkan. Jangan pernah menyerah menghadapi peliknya kehidupan. Tetaplah istiqomah menebar kebermanfaatan. Jangan pernah kau sekalipun berbalik haluan hanya karena tantangan zaman semakin mengerikan. Jadikanlah ini sebagai ladang dakwah dalam menebar kebermanfaatan. Jadikanlah lelahmu karena lillah..
Nak.. Mungkin ketika kau membca ini, ibu sudah tidak ada lagi dihadapan. Dan ketahui juga, nak... Doa mu yang kini ibu perlukan.
Nak... Jadilah santri teladan yang mampu menghadapi tantangan akhir zaman dengan penuh kerelaan, kesabaran dan juga ketawakkalan. Jadilah pembaharu yang mampu diandalkan dalam menebar kebermanfaatan.
Berjuanglah wahai anakku, semoga kelak kau akan berhasil
Dari Ibu untuk kamu, sang pembaharu"
Tangis Hafidz tak mampu terbendung lagi, tapi dalam hati ia bertekad untuk menjadi pribadi sekaligus pembaharu dalam menebar kebermanfaatan.
 Maka dihari berikutnya ia menyusun rancangan cara dengan Ansor, lalu menjalankannya.. Meski tidak mudah dan membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka berhasil menyelamatkan organisasi dikampungnya, mereka juga dikenal sebagai santri pembaharu bagi tantangan arus zaman.
Alhamdulillah.....
                                                                          -Tamat-

Share:

Cara membedakan Cinta dan Nafsu






يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya”

 (HR. Al-Bukhari No.5066, Muslim No. 1402, dan at-Tirmidzi No. 1087 dalam kitab an-Nikaah.)



Cinta memang selalu menjadi hal yang menarik untuk dibahas. Begitu banyak artikel, postingan-postingan, quotes, status-status yang membahas tentang cinta. Mulai dari hal yang membuat bahagia sampai yang membuat bersedih. 


Di zaman ini, fitrah cinta nyatanya sudah agak bergeser dari asalnya. Cinta banyak disalah artikan oleh kebanyakan orang. Terlihat, banyak remaja yang seharusnya mereka sibuk bermain dengan temannya, sekarang malah asik berduaan dengan pacarnya. Yang seharusnya sibuk mencari ilmu, malah sibuk mencari pacar. Remaja saat ini, seakan diburamkan dari hakekat cinta. Mereka sudah tidak lagi bisa membedakan mana cinta, mana nafsu. Ini sangat berbahaya, lebih berbahaya dari musuh kita orang-orang kafir. Karena, masalah ini menggerogoti para telur emasnya orang muslim. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi kita untuk bertafakkur tentang apa itu cinta yang sesungguhnya dan bagaimana kita membedakan antara cinta dan nafsu.


Cinta dalam bahasa arab memiliki banyak arti. Namun, yang paling sering digunakan adalah kata الْحُبُّ atau   مَحَبَّةٌ. Kita lihat penjelasan Imam Al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyful Mahjub tentang makna al-hubb (mahabbah).


Mahabbah berasal dari kata “habbah” yang berarti “benih-benih/biji yang jatuh ke bumi di padang pasir”. Mahabbah dikatakan berasal dari kata itu karena dia merupakan sumber kehidupan. Sebagaimana benih itu tersebar di gurun pasir, tersembunyi di dalam tanah, dihujani oleh terpaan angin, hujan dan sengatan matahari, disapu oleh cuaca panas dan dingin, benih-benih itu tidak rusak oleh perubahan musim, namun justru tumbuh berakar, berbunga dan berbuah. Demikian halnya cinta sejati, tak lapuk dengan sengatan mentari dan guyuran hujan, tak lekang oleh perubahan musim dan tak hancur berantakan oleh terpaan angin.


Intinya, bahwa cinta itu ialah sebuah fitrah dari Allah yang tidak dikontaminasi oleh apapun, kecuali karena ulah manusia itu sendiri.


Al-Ustadz Khalid Basalamah mengatakan dalam ceramahnya bahwa jatuh cinta itu ialah sinyal jodoh dari Allah. Maka, jika ada seseorang yang cenderung kepada kita, itulah sinyal jodoh yang diberikan oleh Allah kepada kita. Ada yang menerima  sinyal itu, ada pula yang menolak sinyal itu dan lebih memilih untuk mencari sinyal yang lain. Namun, hal ini berlaku jika kita sudah dalam keadaan mampu untuk menikah. Orang-orang yang sudah mapan fisik dan mentalnya yang dimaksud disini. Lalu, bagaimana dengan nasib orang yang belum mampu untuk menikah? Apakah kita harus menghilangkan rasa cinta itu karena takut dicap mendekati zina?


Jawabanya tidak. Memang seringkali saat kita dilanda jatuh cinta, kita berfikir untuk menghilangkan rasa cinta tersebut dengan alasan takut dicap mendekati zina. Namun, benarkah demikian? Jika kita menjadi orang yang anti cinta dan justru ingin menghilangkannya bukankah itu berarti sama saja kita menolak karunia yang diberikan oleh Allah SWT? Bukankah itu berarti bahwa kita enggan menerima nikmat yang diberikan Allah SWT? 


Hal yang tepat jika kita dilanda jatuh cinta sedangkan kita belum mampu untuk menikah adalah dengan cara MENETRALISIR cinta tersebut. Kita harus berusaha agar cinta itu tidak dikontaminasi oleh nafsu syahwat. Bagaimana caranya? Rosul SAW sudah memberi tahu caranya kepada kita. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam At-Turmudzi diatas dijelaskan bahwa jika pemuda belum sanggup untuk menikah, maka shaumlah, karena shaum itu bisa menjaga syahwat. Oleh karena itu, satu-satunya cara agar cinta tersebut bertahan dan tidak terkontaminasi oleh syahwat sampai kelak menikah adalah dengan shaum. 


 Dalam penelitian psikologi, diketahui bahwa rasa cinta itu muncul dalam kurun waktu empat bulan. Jika dalam empat bulan cinta itu hilang, maka itu hanya kagum, ngefans biasa. Bukan cinta.


Penelitian di atas bisa dipadukan dengan penjelasan sebelumnya. Yaitu ketika kita dilanda jatuh cinta, maka perbanyaklah shaum agar kita bisa tahu cinta tersebut benar-benar cinta atau hanya nafsu belaka. Jika dalam kurun waktu lebih dari empat bulan (dengan terus memperbanyak shaum dan menjauhi hal yang dilarang) kita masih merasakan getaran cinta. Maka itulah cinta yang harus benar-benar kita jaga. Jika selama itu ternyata cinta yang dirasakan hilang. Maka cinta yang dirasa itu hanyalah nafsu belaka.

Wallahu A’lam Bishawab
Share:

Contoh Amanat cerpen



Cerpen Kompas.

Judul                     : Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya

Penulis                 : Ahmad Tohari

Terbitan               : Kompas, 05 Februari 2017



                Cerpen ini menceritakan tentang Paman Klungsu yang sehari-harinya menjadi penguasa di simpang tiga. Poltas Swakarsa, itulah julukan yang Paman Klungsu dapati. Begitu banyak rentetan kejadian yang terjadi di simpang itu. Karena banyaknya manusia yang melintas disana, menjadikan banyak cerita yang terjadi. Namun, Penulis menitikberatkan pada Yu Binah, seorang penjual nasi rames di belakang pasar. Yang mana Paman Klungsu setiap hari mendapatkan kemurah hatian Yu Binah di sana.



Amanat Cerpen :

1.      Ahmad Tohari menyinggung kepada puluhan anak SMP dan SMA dengan motor yang knalpotnya dibobok juga tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Ini sebagai pesan bahwa kita khususnya untuk anak sekolahan agar mematuhi aturan-aturan berlalu lintas

2.       Tersirat dari perilaku Yu Binah, bahwa walaupun keadaan kita sulit, kita harus terus berbuat baik kepada orang disekitar kita. Dan kebaikan itu jangan sekali dua kali, namun harus terus menerus dilakukan. Karena kebaikan yang seperti itulah yang dicintai oleh Rosulullah.
Share:

Perbedaan Cerpen Mini, Ideal, dan Panjang



            Oke guys.. kali ini saya akan membahas tuntas tentang C E R P E N. Yaps, cerita pendek, kita tentu udah sering belajar tentang ini, baik itu saat SD, SMP, atau SMA betul kan? Nah berikut penjelasan tentang cerpen*

A.    Pengertian Cerpen

Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novela (dalam pengertian modern) dan novel.

B.     Klasifikasi dalam Cerpen

Menurut Nurgiyantoro (1995:9), cerpen yang dalam bahasa Inggris disebut _short story_  adalah cerita yang lebih pendek daripada  _novelette_  (novelet). Walaupun pendek, panjang cerpen bervariasi. Cerpen yang pendek ( _short story/flash story_ ) berkisar 500-an kata, cerpen yang panjang cukupan  ( _middle short story_ ), dan cerpen yang panjang ( _long short story_ ).

C.     Perbedaan Cerpen dengan Karya Fiksi Lainnya

Menurut Edgar Allan Poe—seorang sastrawan kenamaan Amerika—cerpen adalah sebuah cerita yang selesai di-baca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Adapun perbedaan cerpen dengan karya fiksi lainnya, yaitu:
  • Bentuknya yang pendek.
  • Cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas. Tidak bertele-tele.
  • Cerpen tidak sampai memuat detil-detil khusus yang _kurang penting_ yang lebih bersifat memperpanjang dan mengutak-atik alur cerita.
  • Cerpen memiliki kelebihan yang khas, yaitu kemampuannya mengemukakan lebih banyak dari sekadar apa yang diceritakan
Membaca cerpen tidak menuntut pembaca memahami masalah yang kompleks dalam bentuk dan waktu yang sedikit.

D.    Ciri Khas Cerpen
Cerita pendek cenderung kurang kompleks dibandingkan dengan novel. Cerita pendek biasanya memusatkan perhatian pada satu kejadian, mempunyai satu plot, setting yang tunggal, jumlah tokoh yang terbatas, mencakup jangka waktu yang singkat.

E.     Unsur Pembangun Cerpen
Cerpen dibangun dengan dua unsur yaitu intrinsik dan ekstrinsik.  *Unsur intrinsik cerpen* meliputi tema dan amanat, penokohan dan perwatakan, latar penceritaan, plot atau alur, gaya bahasa, dan sudut pandang (point of view). Untuk unsur yang terakhir ini Rahmanto (1997:2.4) menyebutnya dengan istilah pusat pengisahan.

F.      Unsur ekstrinsik cerpen
Adalah unsur-unsur pembentuk cerpen yang berada pada luar cerpen. Nilai ekstrinsik cerpen tidak dapat dipisahkan dari kondisi masyarakat pada saat cerpen tersebut ditulis dan juga dipengaruhi oleh karakter seorang penulisnya.

Berikut Contoh Cerpen Mini, Cerpen Ideal, dan Cerpen Panjang yang  diambil di kurikulum-pendidikan1.blogspot.com/2017/10/contoh-cerpen-mini-ideal-panjang-lengkap.html

1.      Cerpen Mini

Judul               : Ingin Berubah

Penulis             : Sofie


Cerpen ini bertokohkan Andre Bastian, Seorang berandalan akut yang selalu bermaksiat setiap harinya. Dia tidak pernah absen untuk judi, merampok, menjambret, bahkan bermain dengan perempuan. Andre Anak sebatang kara, Ayah ibunya meninggal karena kecelakaan. Faktor inilah yang membuat Andre seperti ini, kurangnya kasih sayang orang tua serta kekayaan warisan yang dikonsumsinya sendiri.

Namun suatu hari Andre bertemu dengan gadis sholehah yang pulang dari pasar. Aini namanya. Andre sangat terpesona dengan gadis itu, sampai-sampai ia mengendap-ngendap untuk membuntuti Aini. Gadis itu telah merubahnya untuk lebih baik lagi, mulai dari perilaku buruknya yang ia tinggalkan, penampilannya yang ia rubah 180 derajat, dan Ibadah Andre yang sangat jarang.


2.      Cerpen Ideal

Judul               : My Last Love

Penulis             : Agnes Davonar


Cerpen ini berkisah tentang 2 orang manusia yang alur cerita cintanya dipertemukan dengan cara yang indah oleh Allah. Martin, Seorang anak orang kaya yang suka berfoya-foya menghamburkan kekayaan. Tak jarang kekayaannya itu dipakai untuk menyewa perempuan. Angel, seorang gadis yang malam itu sebentar lagi akan dilamar oleh kekasihnya.

            Saat itu, Martin sedang menyewa perempuan di dalam mobilnya, ia lalai dan langsung menabrak seorang gadis yang memakai vespa, ialah Angel. Angel saat itu hendak pergi ke taman untuk dilamar oleh kekasihnya, namun naas, ia malah ditabrak oleh Martin hingga kedua kakinya lumpuh.


3.      Cerpen Panjang

Judul               : Pudarnya pesona Cleopatra

Penulis             : Kang Abik

Penerbit           : Republika

Tahun Terbit    : 2005

            Cerita ini dikhususkan untuk orang-orang yang menganggap kecantikan itu adalah segalanya. Cerpen ini mengisahkan tentang seorang laki-laki (tokoh utama) yang menikahi seorang gadis bernama Raihana. Raihana digambarkan sebagai seorang yang cantik, berjilbab rapi, dan tentunya seorang Hafidzah Al Qur’an. Bahtera rumah tangga mereka sangat buruk, itu dikarenakan si Pria menikahi Raihana tidak didasari dengan cinta, namun hanya sekedar berbakti kepada orang tua.

            Si Pria sangat tergila-gila oleh kecantikan perempuan Mesir yang konon katanya titisan Cleopatra. Kulit putihnya, Hidung mancung yang melengkung indah, juga lesung pipinya yang membuat siapa saja tersihir oleh gadis mesir. Bahkan katanya, jika ada 3 orang gadis mesir, maka yang cantiknya ada 6. 3 untuk gadis mesirnya, 3 lagi untuk bayangannya.

            Namun begitu, Raihana tetap istri yang sholehah, ia tetap terus tahajud berdoa kepada Allah untuk keselamatan suaminya. Hingga akhirnya, si Pria berubah 180 derajat. Namun tiada yang tahu bahwa benih cinta tak selamanya berdamai dengan perpisahan.





*dikaji saat kelas online WhatsApp Madrasah Pena





Share:

Contoh cerpen : Bandung Lautan Api





Oleh: Dejial

“Saya perintahkan sekali lagi kepada seluruh rakyat Bandung agar mengosongkan Bandung utara, serta menyerahkan seluruh senjata yang telah dicuri dari kami!”

***
Aku berjalan di kegelapan malam, menelitik apakah nasib kami akan terus seperti ini?  Bagiku, ini semua tidaklah beda dengan neraka yang selalu diceritakan oleh Kyai Hasyim di desaku. Bedanya, semua yang mati di hadapanku tidak hidup kembali.

 Aku hanyalah seorang warga Bandung yang kemarin baru saja menjadi yatim piatu. Kemarin adalah hari terburuk yang pernah aku alami. Seluruh keluargaku dibantai habis oleh tentara sekutu. Aku menyaksikan hal paling tragis dalam hidupku. Disaat kedua bola mataku secara jelas melihat tentara sekutu menembaki kedua orang tuaku. Begitu bengisnya mereka membunuh ibu bapakku, menusuk adik-adikku. Dan yang paling membuatku marah yaitu ketika mereka tertawa-tertawa setelah membabat habis satu keluargaku.

Aku mencoba untuk membunuh mereka juga. Membalaskan apa yang baru saja aku lihat, saat itu akal sehatku entah sedang dimana, mana mungkin aku bisa mengalahkan para tentara itu sendirian. Tapi justru amarah yang membuatku hilang kendali.

 Aku keluarkan pisau dapurku yang selalu aku simpan disamping pinggangku. Aku ringkus satu tentara dengan satu putaran di lehernya. Selanjutnya aku mengendap diantara gelapnya malam, aku tusuk satu tentara lagi tepat di punggungnya.

“Paeh sia!” kataku sembari menarik pisauku dipunggung tentara itu. Aku tendangi mayat itu beberapa kali sampai puas.

Namun gara-gara hal itu, kewaspadaanku berkurang. Satu pukulan keras mendarat di punggungku. Aku terkapar dan langsung menangkis pukulan kedua. Aku lihat ternyata dia salah satu tentara sekutu. Aku meloncat untuk memberi jarak diantara kami. Ternyata dia juga ikut meloncat sembari melancarkan pukulan kedua dengan tangan kanannya. Aku tangkis pukulan itu dari luar sehingga tubuh bagian kanannya terbuka lebar. Aku balas dengan pukulan tangan kiriku yang mengarah pada perut sebelah kanannya. Berhasil. Dia terbanting menjauh.

Aku menyiapkan kembali kuda-kudaku. Melenturkan otot-otot dan sendi-sendiku. Aku geser kaki kananku kedepan, lalu merendahkan tubuhku dan mengangkat tanganku seperti posisi Jet li saat bertarung, kutajamkan penglihatanku ke musuh.

Dia baru saja bangkit dengan tangan yang masih memegang perutnya.

“Kau boleh juga anak muda” katanya sembari tersenyum menunduk kesakitan.

Dia mengadahkan wajahnya dan tersenyum penuh arti kepadaku. Saat itu aku tidak tahu apa yang ia senyumkan. Tiba-tiba benda tumpul mendarat di belakang leherku dengan keras. Aku limbung dan akhirnya terkapar di tanah.

Aku pikir dunia baru saja kiamat.



***

Fathi berjalan dengan santai di trotoar Dayeuhkolot. Dia memandangi sekeliling, begitu kumuh, sampah dimana-mana. Angkot yang bersuliweran kesana-kemari mencari sejenis makhluk bernama manusia yang hendak bepergian.

Fathi lanjut berjalan menuju markas Zeni Tempur (Zipur) 3/YudhaWyogrha. Diujung jalan Dayeuhkolot, Fathi terpesona melihat beberapa patung disana. Fathi lalu membuka lembaran-lembaran buku yang dia bawa.

***

“Id.. Said.. bangun id!!” Asep menggoyang-goyangkan tubuhku yang terbaring. Aku langsung bangun dari tidurku, dan tiba-tiba kepalaku pusing, spontan aku memegang kepalaku.

“Ente kenapa id? Kok bisa tergeletak di luar gini?”

Aku melirik wajah asep, aku mengingat-ngingat apa yang terjadi.

“Keluarga ana semua meninggal sep, Ana coba melawan tapi tetep ana gak bisa menang. Padahal ana jawara silat saat pesantren dulu.”

“Innalillahi..Allahumagfirlahum.. ya iya lah ente gaakan bisa menang kalo sendiri. Id, mereka itu orang luar negeri, hidupnya, lingkungannya beda sama disini. Mereka tentu lebih kuat.”

Aku melamun untuk sementara, teringat dulu saat kyai Hasyim mengajarkan silat kepadaku. Beliau sangat tenang dan lembut saat mengajarkan silat. Aku termasuk murid kesayangan kyai, karena kata beliau, aku begitu berbakat dalam seni bela diri, aku bisa dengan mudah menjatuhkan lawan-lawan yang kyai pilih. Suatu ketika, beliau tiba-tiba berkata kepadaku :

“Manusia itu bisa menguasai ilmu dengan sangat tinggi, namun setinggi apapun ilmunya, dia tetaplah tanah yang lemah dan dibawah.”

Dulu aku tidak paham dengan apa yang dibicarakan kyai, namun setelah kejadian tadi, aku jadi paham apa yang dimaksud kyai dahulu. Walaupun aku begitu jago dalam bela diri silat saat di Pesantren, tetap saja akan ada yang bisa mengalahkanku.

“Gimana kabar pak Toha?” tanyaku kepada Asep.

“Alhamdulillah beliau sehat-sehat saja”

”Terus sekarang gimana kabar ultimatum?”

“Sebenernya ana sengaja ana nyari-nyari ente, eh malah pingsan disini. Sebenernya, Pak Toha dan kawan-kawan sedang menyiapkan rencana besar-besaran, begini id…”

Aku terkaget mendengar penjelasan dari Asep, seketika kami berdua berlari menuju keberadaan Pak Toha untuk memastikan hal yang akan dilakukan.

***

Tooottt…!!!!

Fathi terkaget karena suara klakson yang begitu keras. Ternyata angkot Banjaran-Tegalega di belakangnya hampir menabrak anak-anak punk yang sedang menyebrang jalan. Namun, ternyata bukan si sopir angkot yang marah. Malah, anak-anak punk itu yang berontak mengeilingi angkot tersebut. Ada yang menendang angkot tersebut, ada yang memarah-marahi si sopir, sisanya hanya ikut-ikutan memarahi.

Untung saja ada polisi lalu lintas yang datang menuju angkot itu, sehingga anak-anak punk tadi langsung berlarian menjauh, kalau tidak entah apa lah yang akan terjadi pada angkot itu. Fathi mengalihkan perhatiannya lagi kepada buku itu, namun kali ini ia hendak membaca dengan tenang. Ia lalu mendekat di danau kecil Zipur, dan duduk di pinggir danau itu.


***

“Apa yang bapak lakukan aku sama sekali tidak setuju!!” Bentakku dengan keras.

“Tapi ini yang diperintahkan TRI kepada kita. Kita harus meninggalkan tempat ini, malam ini juga. Dan kita tidak akan rela jika bumi kami ini harus dipakai oleh jepang-jepang biadab itu! Mereka juga kan yang telah membunuh keluargamu?”

Aku diam mendengar perkataan pak Toha.

“Memangnya kamu ridho jika tanahmu, tanah ibu bapakmu ini di rebut oleh mereka?” Tanya pak Toha sekali lagi.

“Rencananya kami akan membumi hanguskan daerah ini, tepat jam 21.00 WIB. Semua warga Bandung sudah setuju dengan ide ini, tidak bisa dirubah.” Lanjutnya.

“Tapi, aku  tidak sanggup lagi jika harus kehilangan bapak, Aku sudah menderita atas meninggalnya keluargaku. Bapak satu-satunya keluargaku yang masih hidup” Kataku sembari menunduk menahan tangis.

“Sudahlah, biar aku menyusul kakakku. Aku titipkan anakku kepadamu id, dia masih kecil, dia tidak tahu tentang rencana ini. Aku ingin saat besar nanti dia akan bangga mengenal  ayahnya” katanya sambil berjalan menuju puterinya.

Dia mendekati puteri semata wayangnya. Satu-satunya yang tersisa dari keluarga kecilnya, ibunya ditembak mati oleh jepang. Dia berhenti memandang sejenak puterinya. Lantas ia memeluknya dengan erat.

“Dek, Bapak pergi dulu.. ada urusan yang harus bapak selesaikan, baik-baik disini ya.. jangan nakal, jangan lupa sholat.. jika adek kangen ke bapa, lihat foto ini” katanya sembari memberi sebuah foto Pak Toha dan isterinya saat menikah.

Aku tak berani untuk melihat adegan itu, aku hanya menunduk menahan air mata.

 “Bapak pergi ya dek..” lanjutnya sembari mencium kening puterinya dengan penuh kasih sayang. Anak Pak Toha saat itu berumur 4 tahun. Terlihat air matanya menetes. Anaknya pun merasakan feeling yang diberikan bapaknya, ia mendekap erat tubuh bapaknya.

Tepat pukul 21.00 Pak Toha menjalankan misi sucinya, beliau ditemani oleh kak Ramdan dan beberapa pemuda lainnya menuju gudang mesiu Jepang. Aku saat itu sedang duduk di lereng gunung Baleendah bersama puteri Pak Toha. Tak lama, Gudang itupun meledak. Ledakannya sangat terasa kuat. 1.100 ton mesiu yang disimpan disana meledak seketika. Akupun memeluk erat gadis kecil yang bersamaku itu sembari menyaksikan ledakan dahsyat dan kobaran api yang mengelilingi Bandung saat itu.


***

Fathi menutup bukunya. Ia yang sedang duduk dipinggir danau itu, melihat ke monumen yang berada di depan danau. Persis di depan kolam didirikan dua buah monumen, bagian depan terdapat patung dada Mohammad Toha. Sedangkan di bagian belakang, sebuah monumen yang menjulang tinggi berbentuk lidah-lidah api dengan tentara yang terperangkap dalam kobarannya.


Fathi kemudia berdiri dan mendekati ke sebelah kiri monumen, terdapat tembok prasasti berisi 15 kotak marmer. Sejumlah nama pejuang yang gugur dalam peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) dipahat di dindingnya. Selain itu, pada bagian atas tembok prasasti ini terdapat ornamen kobaran api.

            Tak lama, Fathi dikagetkan dengan seorang anak laki-laki yang menarik-narik bajunya.

“Mbak..Mbak..  saya belum makan.. minta kasihannya mbak” katanya sembari memelas. Akhirnya Fathi memberikan uang lima libu kepada anak itu, anak itu berterima kasih dan langsung berlari pergi.

Fathi tersenyum sembari melihat ke seberang kolam, tampak sebuah tembok memanjang dengan relief cerita seputar BLA. Pada tembok yang didominasi batu andesit berwarna emas terdapat gambar-gambar pertempuran dan tokoh-tokoh bangsa seperti Soekarno dan Hatta, truk-truk militer, tulisan-tulisan dan relief ledakan gudang mesiu.

 Fathi melihat suatu foto dan berkata dalam hatinya..

“Aku Bangga Padamu pak…”





Share:

Label

Recent Posts