بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Memuat jadwal shalat...
Madrasah Literasi: Kajian
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

AWAS! Hadis-hadis Palsu Bulan Rajab

 


Bulan Rajab merupakan bulan ketujuh dalam penanggalan Islam dan termasuk satu dari bulan yang dimuliakan Allah SWT. Bulan ini merupakan salah satu bulan yang istimewa bagi umat islam. Sehingga bulan ini sangat dinanti kehadirannya. Masuknya bulan Rajab juga menandakan bahwa bulan suci Ramadhan akan segera tiba.  
Bulan Rajab ini diidentikan dengan bulan yang agung karena pada bulan ini Nabi Muhammad SAW melakukan peristiwa yang sangat agung, yaitu Isra' dan Mi'raj memakai Buraq untuk menghadap Allah SWT. 
Namun, dalam pelaksanaannya sehari-hari, banyak amalan-amalan yang dianggap sunnah untuk dikerjakan, padahal tidak ada contohnya dari Nabi SAW atau yang biasa disebut dengan Bid'ah. Hal itu dikarenakan hadis-hadis yang menjadi sandaran hukum amalan di bulan rajab banyak yang dhaif.

Dilansir dari almanhaj.or.id berikut hadis-hadis keutamaan rajab yang ternyata dhaif :

HADIST PERTAMA 

رَجَبٌ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ


“Rajab bulan Allah, Sya’ban bulanku dan Ramadhan adalah bulan ummatku."


Hadis ini Maudhu' dengan referensi : Menurut Syaikh ash-Shaghani (wafat th. 650 H): “Hadits ini maudhu’.” [Lihat Maudhu’atush Shaghani (I/61, no. 129)]

    Kata Ibnul Qayyim (wafat th. 751 H): “Hadits ini diriwayatkan oleh ‘Abdur Rahman bin Mandah dari Ibnu Jahdham, telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Muhammad bin Sa’id al-Bashry, telah menceritakan kepada kami Khalaf bin ‘Abdullah as-Shan’any, dari Humaid ath-Thawil dari Anas, secara marfu’. [Al-Manaarul Muniif fish Shahih wadh Dha’if (no. 168-169)] 

        Kata Ibnul Jauzi (wafat th. 597 H): “Hadits ini palsu dan yang tertuduh memalsukannya adalah Ibnu Jahdham, mereka menuduh sebagai pendusta. Aku telah mendengar Syaikhku Abdul Wahhab al-Hafizh berkata: “Rawi-rawi hadits tersebut adalah rawi-rawi yang majhul (tidak dikenal), aku sudah periksa semua kitab, tetapi aku tidak dapati biografi hidup mereka.” [Al-Maudhu’at (II/125), oleh Ibnul Jauzy] 

    Imam adz-Dzahaby berkata: “ ’Ali bin ‘Abdullah bin Jahdham az-Zahudi, Abul Hasan Syaikhush Shuufiyyah pengarang kitab Bahjatul Asraar dituduh memalsukan hadits.” Kata para ulama lainnya: “Dia dituduh membuat hadits palsu tentang shalat ar-Raghaa-ib.” Periksa : Mizaanul I’tidal (III/142-143, no. 5879).


HADIST KEDUA

فَضْلُ شَهْرِ رَجَبٍ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ الْقُرْآنِ عَلَى سَائِرِ الْكَلاَمِ وَفَضْلُ شَهْرِ شَعْبَانَ كَفَضْلِي عَلىَ سَائِرِ الأَنْبِيَاءِ، وَفَضْلُ شَهْرِ رَمَضَانَ عَلَى الشُّهُوْرِ كَفَضْلِ اللهِ عَلَى سَائِرِ العِبَادِ.

Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Qur-an atas semua perkataan, keutamaan bulan Sya’ban seperti keutamaanku atas para Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan seperti keutamaan Allah atas semua hamba.” 
Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’ 
Kata al Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany: “Hadits ini palsu.” Lihat : al-Mashnu’ fii Ma’rifatil Haditsil Maudhu’ (no. 206, hal. 128), oleh Syaikh Ali al-Qary al-Makky (wafat th. 1014 H).


HADIST KETIGA

صَلَّى الْمَغْرِبَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ثُمَّ صَلَّى بَعْدَهَا عِشْرِيْنَ رَكْعَةٍ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدُ  مَرَّةً، وَيُسَلِّمُ فِيْهِنَّ عَشْرَ تَسْلِيْمَاتٍ، أَتَدْرُوْنَ مَا ثَوَابُهُ ؟ فَإِنَّ الرُّوْحَ اْلأَمِيْنَ جِبْرِيْلُ عَلَّمَنِيْ ذَلِكَ. قُلْنَا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ: حَفِظَهُ اللَّهُ فِيْ نَفْسِهِ وَمَالِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَأُجِيْرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَازَ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلاَ عَذَابٍ.

“Barangsiapa shalat Maghrib di malam pertama bulan Rajab, kemudian shalat sesudahnya dua puluh raka’at, setiap raka’at membaca al-Fatihah dan al-Ikhlash serta salam sepuluh kali. Kalian tahu ganjarannya? Sesungguhnya Jibril mengajarkan kepadaku demikian.” Kami berkata: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui, dan berkata: ‘Allah akan pelihara dirinya, hartanya, keluarga dan anaknya serta diselamatkan dari adzab Qubur dan ia akan melewati as-Shirath seperti kilat tanpa dihisab, dan tidak disiksa.’” 
Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’ 
Kata Ibnul Jauzi: “Hadits ini palsu dan kebanyakan rawi-rawinya adalah majhul (tidak dikenal biografinya).” Lihat al-Maudhu’at Ibnul Jauzy (II/123), al-Fawaa-idul Majmu’ah fil Ahaadits Maudhu’at oleh as-Syaukany (no. 144) dan Tanziihus Syari’ah al-Marfu’ah ‘anil Akhbaaris Syanii’ah al-Maudhu’at (II/89), oleh Abul Hasan ‘Ali bin Muhammad bin ‘Araaq al-Kinani (wafat th. 963 H).


HADIST KEEMPAT

مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍٍ وَصَلَّى فِيْهِ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ يَقْرَأُ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ مِائَةَ مَرَّةٍِ آيَةَ الْكُرْسِيِّ وَ فِي الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ مِائَةَ مَرَّةٍِ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد, لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَرَى مَقْعَدَهُ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ يُرَى لَهُ.

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab dan shalat empat raka’at, di raka’at pertama baca ‘ayat Kursiy’ seratus kali dan di raka’at kedua baca ‘surat al-Ikhlas’ seratus kali, maka dia tidak mati hingga melihat tempatnya di Surga atau diperlihatkan kepadanya (sebelum ia mati)”. 
Keterangan: HADITS INI (مَوْضُوْعٌ) MAUDHU’ 
Kata Ibnul Jauzy: “Hadits ini palsu, dan rawi-rawinya majhul serta seorang perawi yang bernama ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah perawi matruk menurut para Ahli Hadits.” [Al-Maudhu’at (II/123-124)] Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany, ‘Utsman bin ‘Atha’ adalah rawi yang lemah. Lihat : Taqriibut Tahdziib (I/663 no. 4518)


HADIST KELIMA
مَنْ صَامَ يَوْماً مِنْ رَجَبٍ عَدَلَ صِيَامَ شَهْرٍ 

“Barangsiapa puasa satu hari di bulan Rajab (ganjarannya) sama dengan berpuasa satu bulan.”

 Keterangan: HADITS INI (ضَعِيْفٌ جِدًّا) SANGAT LEMAH 
    Hadits ini diriwayatkan oleh al-Hafizh dari Abu Dzarr secara marfu’. Dalam sanad hadits ini ada perawi yang bernama al-Furaat bin as-Saa-ib, dia adalah seorang rawi yang matruk. [Lihat al-Fawaa-id al-Majmu’ah (no. 290)] Kata Imam an-Nasa-i: “Furaat bin as-Saa-ib Matrukul hadits.” 

    Dan kata Imam al-Bukhari dalam Tarikhul Kabir: “Para Ahli Hadits meninggalkannya, karena dia seorang rawi munkarul hadits, serta dia termasuk rawi yang matruk kata Imam ad-Daraquthni.” Lihat  : adh-Dhu’afa wa Matrukin oleh Imam an-Nasa-i (no. 512), al-Jarh wat Ta’dil (VII/80), Mizaanul I’tidal (III/341) dan Lisaanul Mizaan (IV/430).



Itulah beberapa Hadist Dhaif mengenai Bulan Rajab. Pembahasan lengkapnya bisa lihat di almanhaj.or.id di link berikut

Share:

Pemikiran Kalam Harun Nasution



Oleh : Mifathul Haq

A.           Riwayat Hidup Harun Nasution

Harun Nasution lahir pada hari selasa, 23 September 1919 di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Beliau adalah putra dari Abdul Jabar Ahmad, seorang peadgang asal Mandailing dan Qodbhi (Penghulu) pada masa pemerintahan Belanda di kabupaten Simalungun, Pematang Siantar. Harun berasal dari keturunan yang taat beragama, keturunan orang terpandang, dan mempunyai strata yang lumayan. Kondisi keluarganya yang seperti itu membuat Harun bisa lancar melanjutkan cita-citanya mendalami ilmu pengetahuan. Ayahnya seorang ulama yang menguasai kitab kitab Jawi dan suka membaca kitab kuning berbahasa melayu. Ibunya seorang boru Mandailing Tapanuli, Maemunah keturunan seorang ulama, pernah bermukim di Mekkah dan mengikuti kegiatan di Masjidil Haram

Harun memulai pendidikannya disekolah Belanda, Holandsch Inlandche School (HIS) ketika berumur 7 tahun. Selama tujuh tahun, ia belajar Belanda  dan ilmu pengetahuan umum di HIS itu, dia berada dalam lingkungan berdisiplin ketat. Di lingkungan memulai pendidikannya dari lingkungan keluarganya dengan mengaji, shalat dan ibadah lainnya. Setelah tamat HIS, Harun merencanakan sekolah ke MULO. Akan tetapi orang tuanya tidak merestui, karena menganggap pengetahuan umum  Harun sudah cukup dengan sekolah di HIS. Akhirnya Harun melanjutkan pendidikan ke sekolah agama yang bersemangat modern, yaitu Moderne Islamietische Kweekschool (MIK), semacam MULO di Bukitinggi tahun1934. Setelah sekolah di MIK , sikap kegamaan Harun mulai berbeda dengan sikap keberagamaan, yang selama ini dijalankan oleh orang tuanya, termasuk lingkungan kampungnya. Atas desakan orang tuanya, ia meninggalkan MIK dan pergi belajar ke Saudi Arabia. Di negeri gurun pasir itu, Harun tidak lama dengan memohon kepada orang tuanya agar mengizinkannya untuk melanjutkasn studi ke Mesir. Di Mesir dia memulai mendalami Islam pada Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, namun beliau tidak puas dan pindah ke Universitas Amerika di Kairo. Di universitas itu, Harun bukan mendalami hukum-hukum islam melainkan mendalami ilmu pendidikan dan ilmu sosial. Setelah tamat dari Universitas Kairo dengan ijazah B.A., Harun bekerja di perusahan swasta dan kemudian di konsulat Indonesia Kairo. Dari konsulat itulah putra Batak yang mempersunting gadis Mesir (bernama Sayedah) ini, memulai diplomatiknya. Dari mesir, Harun ditarik ke Jakarta bekerja sebagai pegawai Departemen Dalam Negeri  dan kemudian menjabat sebagai sekretaris pada kedutaan besar Insonesia di Brussel. Situasi politik dalam negeri Indonesia pada dekade 60-an membuat Harun mengundurkan diri dari karir diplomatik dan pulang kembali ke Mesir. Di Mesir, Harun mulai menggeluti dunia Ilmu pengetahuan di Sekolah Tinggi Studi Islam dibawah bimbingan seorang ulama fiqih Mesir terkemuka, Abu Zahrah. Ketika itu, Harun mendapatkan tawaran mengambil studi Islam di Universitas McGill, Kanada. Pada tingkat Magister, Harun menulis tentang “Pemikiran Negara Islam di Indonesia”, sedang untuk disertasi Ph.D, Harun menulis tentang “posisi Akal dalam Pemikiran Teologi Muhammad Abduh”.

Harun Nasution merupakan putra Indonesia pertama yang mencapai gelar doktor pada Islamic Studies di McGill University Montreal pada tahun 1968. Setelah meraih gelar doktor, Harun kembali ke tanah air dan mencurahkan perhatiannya pada perkembangan pemikiran Islam lewat IAIN yang ada di Indonesia. Harun Nasution menjadi menjadi Rektor IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk dua periode dan paling lama (1973-1978 dan 1978-1984). Kemudian dengan berdirinya pasca sarjana, Harun menjabat sebagai Direktur program pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sampai meninggal dunia (1988), di usianya kurang lebih 79 tahun. Karya Harun Nasution semuanya menjadi buku teks terutama dilingkungan IAIN  yaitu: Teologi Islam (1972), Islam Ditinjau dari Berhagai Aspeknya (1974) 2 jilid, Filsafat Agama (1978), Filsafat dan mistisisme dalam Islam (1978), Aliran Modern dalam Islam (1980), dan Muhammad Abduh dan Teologi Mu’tazilah (1987).


 

 

B.     Pokok Pemikiran Tauhid Harun Nasution

1.      Peranan Akal

Peranan akal dalam sistem teologi suatu aliran sangat menetukan dinamis atau tidaknya pemahaman seseorang tentang ajaran Islam. Berkenaan dengan akal ini, Harun Nasution menulis demikian, “akal melambangkan kekuatan manusia. Karena akal lah, manusia mempunyai  kesanggupannya untuk mengalahkan makhluk lain. Bertambah lemahnya kekuatan akal manusia, bertambah rendah pula kesanggupannya menghadapi kekuatan- kekuatan lain tersebut.

 

2.      Hubungan wahyu dan akal.

Dalam hal hubungan akal dan wahyu, sebagaimana pemikiran ulama Muktazillah terdahulu Harun Nasution berpendapat bahwa akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam Al-Qur’an. Orang yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya. Wahyu bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan. Dengan demikian kita tidaklah heran kalau Sirajudin Abbasc berpendapat bahwa Kaum Mu’tazilah banyak mempergunakan akal dan lebih mengutamakan akal bukan mengutamakan Al Qur’an dan Hadist. Hubungan wahyu dan akal memang menimbulkan pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan. Akal mempunyai kedudukan yang tinggi dalam  Al-Quran. Orang yang beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-galanya. Wahyu bahkan tidak menjelaskan semua permasalahan keagamaan.  Dalam pemikiran Islam, baik di bidang filsafat dan ilmu kalam, apalagi di bidang ilmu fiqih, akal tidak pernah membatalkan wahyu. Akal tetap tunduk pada teks wahyu. Teks wahyu tetap dianggap benar. Akal dipakai untuk memahami teks wahyu dan tidak untuk menetang wahyu.

 

3.      Pembaharuan Teologi

Asumsinya bahwa keterbelakangan dan kemunduran umat Islam di Indonesia juga di mana saja disebabkan  ada yang salah dalam teologi mereka. Pandangan ini serupa dengan kaum modernis  pendahulunya seperti M.Abduh, Rasyid Ridha, Al-Afghani dan lainnya yang memandang perlu untuk kembali kepada teologi Islam sejati. Yang bersifat rasional, berwatak free-will, dan mandiri serta lepas dari fatalistik dan irasional.

 

4.      Baik dan Buruk menurut pertimbangan akal.

Bertumbuh besar yang diberikan kepada wahyu oleh suatu aliran, bertambah kecil daya akal dalam aliran itu, oleh karena itu di dalam sistem teologi, yang memberikan daya besar kepada akal dan fungsi terkecil kepada wahyu, manusia dipandang mempunyai kekuasaan dan kemerdekaan, tetapi dalam sistem teologi yang memberikan daya terkecil kepada akal dan fungsi terbesar kepada wahyu, manusia dipandang lemah dan tidak merdeka. Akal dan wahyu sebagai sumber pengetahuan manusia dapat dijelaskan sebagai berikut: akal untuk memperoleh pengetahuan. Dengan memakai kesan-kesan yang diperoleh pancaindra sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan.

Mengenai pemakaian akal, aliran Mu’tazilah memberikan daya yang besar kepada akal. Aliran Maturidiyah Samarkand memberikan daya kurang besar dari Mu’tazilah, tapi lebih besar dari pada Maturidiyah Bukhara, sementara itu, aliran Asy’ariyah memberikan daya terkecil kepada akal. Menurut kaum Mu’tazilah, tidak sama yang baik dapat diketahui oleh akal. Untuk mengetahui hal itu, memperlakukan pertolongan wahyu. Oleh karena itu, Abdul Jabar membagi perbuatan-perbuatan kepada beberapa bagian yaitu : a) Munakir aqliyah (perbuatan yang dicela akal) contoh: tidak adil dan berbuat dusta. b) Munakir syar’iah (perbuatan yang dicela oleh sayar’iat atau wahyu) seperti: mencuri, berzina, minum-minuman keras. Dengan demikan, wahyu menurut kaum Mu’tazilah mempunyai konfirmasi dan informasi.



Daftar Pustaka

 

Nasution, Harun. 1986. Teologi Islam. Jakarta:UI-press

Suntiah, Ratu dan Maslani, 2014. Ilmu Tauhid, Bandung: Interes Media.                   

Suntiah, Ratu dan Maslani, 2018. Ilmu Kalam, Bandung: CV Armico.           

Karman, M & Supoana. 2009. Materi pendidikan agama islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Abduh, Muhammad. 1965. Risalah Tauhid. Jakarta:Bulan Bintang.

Nasution, Harun. Akal dan Wahyu. (Universitas Indonesia (UI Press). Jakarta. 1986).

Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam. (PT. Bulan Bintang. Jakarta. 1973).

Nasution, Harun. Muhammad Abduh dan Teologi Islam Mu’tazilah. (Universitas Indonesia (UI Prees). Jakarta. 1987).

Muzani, Syaiful. Islam Rasional: Gagasan dan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution. (Mizan. Bandung. 1995).

Halim, Abdul. Teologi Islam Rasional, Apresiasi Terhadap Wacana dan Praksis Harun Nasution. (Ciputat. Jakarta. 2001).

https://maktabahmahasiswa.blogspot.com/2019/03/makalah-ilmu-kalam-harun-nasution-dan-h.html

http://makalahkuindonesia.blogspot.com/2017/12/makalah-tauhid-imlu-kalam-pemikiran.html

https://udhiexz.wordpress.com/2009/05/12/pemikiran-prof-dr-harun-nasution/

 

 


Share:

Pengertian, Materi, Sumber, serta Hubungan Tasawuf dengan IIlmu Lain



A.   Pengertian Tasawuf

Dalam relitanya Tasawuf memiliki banyak sekali pengertian, bahkan ada yang menyebutkan ada seribu pengertian. Terlepas dari hal tersebut, ada beberapa pengertian yang cukup komprehensif.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Tasawuf ialah ajaran untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga memperoleh hubungan langsung secara sadar dengan-Nya.[1]
Secara lughawi  etimologis  (kebahasaan) sebagian ada yang berpendapat kata tasawuf  atau sufi diambil dari kata shaff, yang berarti saf atau baris. Dikatakan demikian, karena sufi sefalu berada pada baris pertama dalam shalat. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata shafa yang berarti bersih. Karena hatinya selalu dihadapkan ke hadirat Allah Swt., dan bentuk Jama' (plural)-nya adalah shaffi, bukan shufi  Ada lagi yang mengatakan, berasal dari kata shujfah atau shujfat al-masjid, serambi masjid. Tempat ini didiami oleh para sahabat Nabi yang tidak punya tempat tinggal. Mereka selalu berdakwah dan berjihad demi Allah semata. [2]
Dikatakan sufi, karena senantiasa menunjukkan perilaku sebagaimana para sahabat pada masa Nabi Saw. tersebut. Di samping itu, masih ada lagi yang berpendapat, bahwa kata sufi merupakan kata jadian dari shuf, yang berarti bulu domba. Dikatakan demikian, karena para sufi suka memakai pakaian kasar, tidak suka pakaian halus dan bagus, yang penting bisa menutupi dari ketelanjangan. Ini dilakukan sebagai tanda taubat dan kehendaknya untuk meninggalkan kehidupan duniawi.[3]
Ada lagi yang berpendapat, kata sufi berasal dari kata sop hos (bahasa Yunani) yang berarti hikmah (kebijaksanaan). Dikatakan demikian, karena sufi selalu menekankan kebijaksanaan. Huruf  's' pada kata sop hos itu ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi shad dan bukan sin sebagaimana tampak pada kata philosophi yang ditransliterasikan ke dalam bahasa Arab menjadi falsafah. Akan tetapi, dari semua istilah tasawuf yang dikemukakan di atas, Al-Qusyairi menganggap hanya merupakan laqab (sebutan). Oleh karena dari semua asal kata tersebut tidak ada yang cocok dari sisi analogi atau asal-usul bahasa Arab.[4]
            Menurut Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi bahwa tasawuf adalah ilmu yang menerangkan tentang keadaan-keadaan jiwa (nafs) yang dengannya diketahui hal-ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari (sifat-sifat) yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji, cara melakukan suluk, jalan menuju Allah, dan meninggalkan (larangan-larangan) Allah menuju (perintah-perintah) Allah SWT.[5]
            Dengan demikian tasawuf atau sufisme adalah suatu istilah yang lazim dipergunakan untuk mistisisme dalam Islam dengan tujuan pokok memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Dalam hal ini pokokpokok ajarannya tersirat dari Nabi Muhammad SAW yang didiskusikan dengan para sahabatnya tentang apa-apa yang diperolehnya dari Malaikat Jibril berkenaan dengan pokok-pokok ajaran Islam yakni: iman, islam, dan ihsan. Ketiga sendi ini diimplementasikan dalam pelaksanaan tasawuf.[6]

B.   Sumber Tasawuf
            Banyak perbedaan pendapat mengenai sumber Tasawuf ini. Ada yang menyebutkan sumber Tasawuf itu berasal dari Yunani, Persia, Hindu, Budha, dan Kristen. Namun tentunya jika disebutkan bahwa Tasawuf bersinggungan dengan Yunani, Persia, Hindu, Budha dan Kristen maka bisa dikatakan benar.
            RA. Nicholson dalam Syamsun Ni’am menyebutkan "Semua pikiran yang dipandang sebagai unsur-unsur luar yang merembes dalam kalangan kaum Muslimin ataupun hasil kebudayaan asing yang non-Islam, sebenarnya muncul dari asketisisme maupun tasawuf yang tumbuh dalam Islam sendiri, yang keduanya benar-benar bercorak Islam".[7]
            Selain itu ada beberapa orientalis-orientalis yang menyatakan bahwa sumber ajaran Tasawuf itu murni dari Islam. seperti Louis Massignon dan J. Spencer Trimingham.
            Sementara Trimingham dalam bukunya, The Sufi Orders in Islam, sebagaimana yang dikutip oleh Syamsun Ni’am mengatakan:
"Tasawuf berkembang secara wajar dalam batas-batas Islam. Sekalipun ia memang menerima pancaran kehidupan dan pemikiran asketisisme Kristen Timur, namun para sufi itu tidak mengadakan kontak-kecuali sedikit sekali-dengan sumber-sumber yang bukan Islam. Bahkan, lebih-lebih lagi, suatu sistem mistis yang berkembang luas justru telah terdapat dalam Islam. Bagaimana pun utang budinya pada NeoPlatonisme, gnostisisme, atau mistisisme Kristen, tidak boleh tidak, kita harus meninjaunya secara benar, seperti tinjauan para sufi sendiri, bahwa tasawuf adalah teori batin (moral) Islam dan rahasianya justru terkandung dalam Al-Quran'' .[8]
            Maka dari itu jelaslah bahwa Sumber ajaran Tasawuf itu berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah serta Amalan para Sahabat, yang mana amalan para Sahabat tersebut tidak akan keluar dari runag lingkup Qur’an Sunnah. Dari Al-Qur’an dan Sunnah inilah para sufi mendasarkan pendapat-pendapat mereka, melakukan praktek ruhaniah mereka serta juga latihan-latihan mistiknya.

C.   Materi Tasawuf
Dalam disiplin ilmu Tasawuf, ada beberapa hal yang harus dipelajari dalam Tasawuf ini. Adapun materi-materi tersebut ialah :[9]
1.      Syari’at
Menurut kaum sufi Syari’ah itu kumpulan lambang yangmemiliki makna tersembunyi. Shalat misalnya, bagi akum sufi bukanlahsekedar sejumlah gerakan dan kata-kata, tetapi lebih dari itu merupakanpercakapan spiritual antara makhluk dengan khaliq. Demikian juga ibadah lain seperti hajji.
2.      Thariqot
Untuk mencapai tujuan tertentu memerlukan jalan dan cara. Tanpa mengetahui jalannya, tentu sulit untuk mencapai maksud dan tujuan. Hal ini dinamakan thariqat, dari segi persamaan katanya berarti “madzhab” yang artinya “jalan”. Mengetahui adanya jalan perlu pula mengetahui “cara” melintas jalan agar tujuan tidak tersesat.
3.      Hakikat
Hakikat dapat didefinisikan sebagai kesaksian akan kehadiran peran serta ke-Tuhan-an dalam setiap sisi kehidupan. Hakikat adalah kesaksian terhadap sesuatu yang telah ditentukan dan ditakdirkan-Nya serta yang disembunyikan dan ditampakkannya. Selanjutnya dikatakan hakikat bersumber dominasi kreativitas Al-Haq. Ismail Nawawi mengutip Ustadz Ali Ad-Daqaq bahwa surat al-Fatihah ayat 4, ”Hanya pada-Mu kami menyembah” merupakan manifestasi dari syari’at. Sedangkan surat al-Fatihah ayat 5, ”Hanya kepada-Mu kami memohon” merupakan jelmaan pengakuan penetapan hakikat.
4.      Ma’rifat
Kata ma’rifat berasal dari kata ‘arafa yang artinya mengenal dan paham. Ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam bentuk gnosis, pengetahuan dengan hati sanubari. Pengetahuan ini diperoleh dengan kesungguhan dan usaha kerja keras, sehingga mencapai puncak dari tujuan seorang Salik. Hal ini dicapai dengan sinar Allah, hidayah-Nya, Qudrat dan Iradat-Nya.
5.      Maqamat
Maqamat adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam pandangan Ath-Thusi sebagaimana dikutip oleh Rosihon Anwar dan M. Alfatih bahwa maqamat adalah kedudukan hamba (salik) dalam perjalanannya menuju Allah SWT melalui ibadah, kesungguhan melawan rintangan (al-mujahadat), dan latihan-latihan rohani (ar-Riyadhah).
6.      Ahwal
Yang dinamakan hal adalah apa yang didapatkan orang tanpa dicari (hibah dari Allah SWT). Sedangkan dalam maqamat didapatkan dengan dicari (diusahakan). Dengan kata lain hal itu bukan usaha manusia, tetapi anugerah Allah setelah seorang berjuang dan berusaha melewati maqam tasawuf.
7.      Takhali, Tahali, Tajali
Takhalli ialah membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela, kotor hati, ma’syiat lahir dan ma’syiat batin. Pembersihan ini dalam rangka, melepaskan diri dari perangai yang tidak baik, yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama. Sifat-sifat tercela ini merupakan pengganggu dan penghalang utama manusia dalam berhubungan dengan Allah. Tahalli merupakan pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, menyinari hati dengan taat lahir dan batin. Hati yang demikian ini dapat menerima pancaran Nurullah dengan mudah. Oleh karenanya segala  perbuatan dan tindakannya selalu berdasarkan dengan niat yang ikhlas (suci dari riya). Dan amal ibadahnya itu tidak lain kecuali mencari ridha Allah SWT. Untuk itulah manusia seperti ini bisa mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Maka dari itu, Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan perlindungan kepadanya.
Yang dimaksud dengan Tajalli adalah merasakan akan rasa ketuhanan yang sampai mencapai sifat muraqabah. Dalam keterangan lain disebutkan bahwa tajalli merupakan barang yang dibukakan bagi hati seseorang tentang beberapa Nur yang datang dari ghoib. Tajalli ada empat tingkatan, yaitu :60 tajalli af’al, tajalli asma, tajalli sifat, dan tajalli zat.
8.      Riyadhah
Riyadhah adalah latihan-latihan fisik dan jiwa dalam rangka melawan getaran hawa nafsu dengan melakukan puasa, khalwat, bangun di tengah malam (qiyamullail), berdzikir, tidak banyak bicara, dan beribadah secara terus menerus untuk penyempurnaan diri secara konsisten. Semua kondisi puncak kebahagiaan, puncak penderitaan, puncak kegembiraan, dan puncak kesedihan merupakan wujud dari riyadhoh. Manusia mempersiapkan diri dengan berbagai latihan-latihan jiwa untuk kesucian batin.
9.      Muqorobah
Secara bahasa Muqarabah berarti saling berdekatan (binammusyarakah) dari kata-kata qooraba-yuqooribu-muqoorobah. Dalam pengertian ini, maksudnya adalah usaha-usaha seorang hamba untuk selalu berdekatan dengan Allah SWT, yakni saling berdekatan antara hamba dan Tuhannya.
10.  Muroqobah
Muraqabah dalam makna harfiah berarti awas mengawasi atau saling mengawasi (dalam Ilmu Shorof dalam kategori bina musyarokah). Secara bahasa muraqabah mengandung makna senantiasa mengamatamati tujuan atau menantikan sesuatu dengan penuh perhatian (mawas diri). Sedangkan menurut terminologi berarti melestarikan pengamatan kepada Allah SWT dengan hatinya dalam arti terus menerus kesadaran seorang hamba atas pengawasan Allah SWT terhadap semua keadaannya. Sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya dengan penuh perasaan (melekat) kepada Allah SWT.
11.  Fana dan Baqa
Fana dalam istilah Ilmu Tasawuf adalah suatu tingkatan pengalaman spiritual sufi yang tertinggi menjelang ke tingkat ittihad, yakni hilangnya kesadaran tentang dirinya dari seluruh makhluk dan hanya ditujukan kepada Allah semata,99 serta yang ada hanya Allah SWT. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya sifat-sifat Basyariyah maka yang kekal adalah sifat-sifat Ilahiyah. Fana dan baqa datang beriringan. Ini merupakan pengalaman mistik tentang substansi atau kehidupan bersama dengan Tuhan setelah terjadi fana dalam diri sufi
12.  Ittihad
Ittihad merupakan lanjutan yang dialami seorang sufi setelah melalui tahapan fana dan baqa. Dalam tahapan ittihad, seorang sufi bersatu dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai menyatu; baik substansi maupun perbuatannya.
13.  Mahabbah
mahabbahmerupakan keinginan yang sangat kuat terhadap sesuatu melebihi kepada yang lain atau ada perhatian khusus, sehingga menimbulkan usaha untuk memiliki dan bersatu dengannya, sekalipun dengan pengorbanan. Dengan demikian dapat dikatakan, Mahabbah adalah perasaan cinta yang mendalam secara ruhaniah kepada Allah. Figur sufiyah tentang mahabbah ini adalah Rabi’ah al-Adawiyah
14.  Al-Hulul
Hulul berasal dari kata halla-yahillu-hulul, mengandung makna menempati, tinggal di, atau bertempat di.165 Sedangkan dalam makna istilah hulul adalah paham yang mengatakan bahwa Tuhan memilih tubuhtubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat (bersemayam) di dalamnya dengan sifat-sifat ketuhanannya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dilenyapkan
15.  Wahdatul Wujud
Secara etimologi, wahdatul wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata, yaitu Wahdat dan al-Wujud. Wahdat artinya adalah penyatuan, satu, atau sendiri, sedangkan al-wujud artinya ada (eksistens).
16.  Insan Kamil
Insan Kamil berasal dari gabungan dua kata bahasa Arab, insane dan kamil. Insan berarti manusia, kamil berarti sempurna. Jadi secara bahasa insan kamil mengandung makna manusia sempurna (Perfect Man), yakni manusia yang dekat (qarib dengan Allah) dan terbina potensi ruhaniahnya sehingga dapat berfungsi secara optimal. Inilah manusia seutuhnya yang mempunyai ketinggian derajat di hadapan Tuhannya, sehingga mencapai tingkat kesempurnaan tauhid dan akhlak mulya.
17.  Waliyullah

Waliyullah merupakan gabungan dari lafadz “wali” dan “Allah”. Kata “wali” adalah bentuk mufrad (singular), sedangkan bentuk jamak-nya (plural) adalah “awliya”. Wali Allah artinya kekasih Allah. Jadi bentuk jamak-nya awliya Allah (para kekasih Allah).


D.   Hubungan Tasawuf dengan Ilmu Lain

Dalam eksistensinya, Tasawuf tentu saja selalu bersinggungan dengan ilmu lain. Ada beberapa Ilmu yang berhubungan dengan Tasawuf, diantaranya :[10]

1.      Hubungan Tasawuf dengan Filsafat
Tasawuf dan filsafat-sebenarnya dapat dipertemukan, saling mengisi dan memengaruhi. Sebab, sepanjang sejarah kajian filsafat Islam dan tasawuf, telah banyak ditemukan persinggungan dua kutub tadi-filsafat dan tasawuf. Bentuk-bentuk hubungan tersebut misalnya dapat dilihat  dari pertentangan satu sama lain, sebagaimana tampak dalam karya-karya Al-Ghazali bersaudara, Abu Hamid, dan Ahmad. Juga penyair sufi besar seperti Sana'i, Fariduddin Athar, dan Jalaluddin Rumi. Kelompok sufi terakhir memang terkesan hanya memerhatikan aspek rasional dari filsafat, dan setiap kali berbicara tentang intelek, mereka tidak mengartikan inteleki dalam arti mutlaknya, tetapi mengacu kepada aspek rasional intelek (akal). Athar dalam memahami filsafat juga terkesan cenderung kepada filsafat peripatetic yang rasionalistik, dan :tnenekankan bahwa hal itu tidak boleh dikelirukan dengan mistri ilahiah dan pengetahuan ilahiah, yang merupakan usaha puncak pensucian jiwa di bawah bimbingan spiritual para guru sufi. lntelek tidak sama dengan hadis Nabi dan filsafat tidak sama dengan teosofi (hikmah) dalam makna Quraninya.
Kitab Matsnawi Rumi adalah sebuah Master Piece filsafat. Akan tetapi, baik kelompok Al-Ghazali (Abu Hamid-Ahmad) dan Sanii, Athar, dan Rumi, adalah sama-sama dikenal tokoh sufi par-excellent pada masanya, bahkan dikenang hingga kini. Walaupun jalan yang ditempuhnya adalah berbeda, puncak pencarian Tuhan, akhirnya juga berada pada titik dan tujuan yang sama, yaitu bertemunya dengan Tuhan Yang Maha Mudak, Allah Swt.

2.      Hubungan Tasawuf dengan Fikih
Misalnya pada pembahasan tentang shalat. Menurut ilmu fikih, shalat hams mengikuti syarat, rukun, sah, dan wajibnya. Jika ketentuan tersebut tidak dilakukan dengan baik, shalatnya dianggap tidak sah. Sebaliknya, jika ketentuan-ketentuan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, shalatnya dianggap sah. Persoalannya adalah apakah cukup shalat dengan hanya memenuhi syarat, rukun, sah dan tidaknya shalat tersebut; sementara tidak dibarengi dengan suasana keruhanian mendalam akan berhadapan dengan Tuhan? Ilmu fikih tidak akan dapat menjawabnya, dan yang dapat menyelesaikan adalah ilmu tasawuf. Sebab, tasawuf berbicara tentang bagaimana sesorang bisa khusyuk, ikhlas, dan cara berkomunikasi dan berkontemplasi dengan Tuhan secara baik. Di sinilah lagi-lagi kerja sama yang baik antara ilmu fikih dan tasawuf sangat diperlukan.



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia vol. 5
[2] Syamsun Ni’am, Tasawuf Studies, hal. 24-25
[3] Idem
[4] Idem
[5] Badrudin, Pengantar Tasawuf,  hal. 1-2
[6] Badrudin, Pengantar Tasawuf,  hal. 2
[7] Syamsun Ni’am, Tasawuf Studies, hal. 61
[8] Syamsun Ni’am, Tasawuf Studies, hal. 62
[9] Badrudinn, Pengantar Tasawuf, hal. 33-101
[10] Syamsun Ni’am, Tasawuf Studies, hal. 90-101

Share:

Label

Recent Posts